Aspek Sosial

Aspek Sosial

Merupakan kajian yang perlu dan harus dilakukan dalam setiap proses pembangunan, meliputi :

  1. Pemahaman dan pengertian social terhadap pembangunan merupakan usaha untuk memberikan informasi tentang pembangunan kepada masyarakat mengali informasi tentang pembangunan dari masyarakat.
  2. Analisis dari dampak social dari pembangunan. Analisis ini diperlukan untuk mengetahui dampak social yang akan muncul. Resiko social sebuah pembangunan yang perlu dihindari antara lain : hilangnya tanah, rumah, dan pekarangan masyarakat terkena pembvangunan. Hilangnya mata pencarian hidup, dan resiko teknis dari pelaksanaan pembangunan terhadap masyarakat disekitar pembangunan tersebut. Tujuan dari analisis adalah meminilisasi dampak social yang akan timbul di kemudia hari.
  3. Partisipasi sosisal terhadap pembangunan merupakan kajian social yang melibatkan peran dari masyarakat terhadap pembangunan setelah selesai. Masyarakat dengan kesadarannya akan melihat pentingnya proyek ini bagi kelangsungan hidupnya, kelangsungan pemerintah daerah, dan kelangsungan jalannya roda perekonomian masyarakat baik secara mikro maupun makro.
  4. Partisipasi social terhadap pembangunan merupakan kajian social yang melibatkan peran dari masyarakat terhadap pembangunan setelah selesai dan lebih dominant ke unsure kemitraan (Partnetship). Setelah analisis ini diperoleh, maka perlu disosialisasikan dan melibatkan masyarakat dalam proses pemeliharaan pembangunan, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Prasarana Social Ekonomi

Prasarana adalah alat (mungkin tempat) yang paling utama dalam kegiatan sosial atau kegiatan ekonomi.

Dalam meningkatkan perkembangan kegiatan social dan ekonomi , prasarana (infrastructure) merupakan hal yang penting. Pembangunan tidak dapat berjalan dengan lancar jika prasarana tidak baik. Jadi prasarana tidak dapat dianggap sebagai foktor potensial dalam menentukan masa depan dari perkembangan suatu wilayah perkotaan dan perdesaan.

Tiap aspek kehidupan social dan tiap sector dari kehidupan ekonomi mempunyai prasaran sendiri, yang merupakan satuan terbesar dan alat utama dalam berbagai kegiatan. Dengan demikian, dalam mensukseskan pembangunan tiap lembaga kehidupan social dan tiap sector kehidupan ekonomi harus memperhatikan prasarananya.

Nurske memberikan beberapa cirri-ciri bagi prasarana ekonomi :

  1. Menyediakan pelayanan yang merupakan dasar bagi tiap kapasitas produksi.
  2. Instalasi yang besar dan mahal.
  3. Tidak dapat diimpor dari luar negeri.

Dalam hal prasarana ini haynes mengatakan : “pertama, modal (barang modal) dapat dianggap prasarana”, jika merupakan sumber ekonomi luaran (eksternal) dan jika unitnya besar : kedua, perlengkapannya pun dianggap prasarana. Dalam pengembangan wilayah terdapat 2 macam kebijaksanaan regional, yaitu :

  1. Kebijaksanaan regional yang langsung, yaitu pemerintah mengatur pengembangan regional dengan langsung membatasi (atau mengambil alih) kegiatan ekonomi.
  2. Kebijaksanaan regional yang tidak langsung, yaitu pemerintah membuat serangkaian peraturan dan ikut mengatur tanpa mempengaruhi ekonomi dan tanggung jawab swasta.
  3. Dimensi Cultural dan Modal Sosial yang Terabaikan : Wajah Mentalitas Indonesia

Realitas pembangunan memperhatikan bahwa dimensi kultural cenderung diabaikan, diambil alih oleh ekonomi dan politik. Yang disebut terakhir bahkan mendominasi interpretasi terhadap hampir semua problem bangsa termaksud dalam hal menterjemahkan determinal kegagalan atau keberhasilan pembangunan.

Jika dibsarikan dari berbagi wacana yang mengemukakan selama ini bekaitan dengan pertanyaan mengapa Indonesia selalu terpuruk?, intinya senantiasa merujuk ke tindakan Orde Baru yang refresif. Selama 32 tahun berkuasa. Pemikiran ini sampai setidaknya tahun 2005, masih kuat mendiminasi. Hampir semua pihak mengamini postulasi ini : kalngan politisi, para pengamat pembangunandan insan pers. Ini tampaknya suatu bentuk cara pandang linier yang sekedar mengulangi situasi di awal tahun 1970-anyang beradu lantang menimpahkan segala kesalahan pada Orde Lama. Spektrumnya juga sama dengan keadaan tahun 1950-1960-an yang menimpahkan semua persoalan pada penjajahan Belanda yang baru saja angkat kaki.

Tentu saja pengaruh suatu jaman pemerintahan yang refresif, ada dan memang kuat. Tetapi menenpatkan dimensi rezim sebagai satu-satunya determinan keterpurukan terasa sangat berlebihan, tolol, malas, dan naif.

Sumber: https://multiply.co.id/