WAJIBNYA ITTIBA’ KEPADA NABI SAW

WAJIBNYA ITTIBA’ KEPADA NABI SAW

Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Artinya:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [an Nisaa’: 115].

Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang wajibnya bagi setiap kita untuk ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak hanya dalam masalah ibadah, namun juga wajib berittiba’ dalam masalah-masalah yang lain. Dengan ittiba’ ini, kita akan mendapatkan kemuliaan, kebahagiaan dan kemenangan.

Para sahabat, mereka mendapatkan kemuliaan, kemenangan, izzah, dengan sebab mereka ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka tidak ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekali saja, maka mereka mendapatkan kekalahan, sebagaimana yang masyhur kita ketahui tentang kisah Perang Uhud. Pada Perang Uhud tersebut para sahabat mendapatkan kekalahan, karena pasukan pemanah tidak taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan itu disebabkan karena perbuatan mereka.

Allah berfirman:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا ! قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya:

Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Ali Imran : 165].

Yang lebih menyedihkan lagi, umat Islam saat ini sudah sangat jauh dari ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan mereka mengerjakan syirik dengan bangga, mereka melakukan perbuatan bid’ah, melakukan kemaksiatan dan lainnya, yang menjadi sebab kehinaan bagi mereka. Maka tarbiyah (pendidikan) yang harus diutamakan kepada ummat ini, yaitu harus mengikuti perkataan Allah dan perkataan RasulNya, sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat.

Sebagai contoh, Abu Bakar ash Shiddiq, seorang sahabat yang dijamin oleh Allah masuk surga, mengatakan :

لَسْتُ تَارِكاً شَيْئاً كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَعْمَلُ بِهِ إِلاَّ عَمِلْتُ بِهِ ، فَإِنِّيْ أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئاً مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ
            Artinya”

“Aku tidak akan meninggalkan sesuatu yang Rasulullah lakukan kecuali untuk aku amalkan, karena aku khawatir, jika aku tinggalkan perintah Rasulullah, maka aku akan sesat. [HR Bukhari, no. 3093, dan diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam kitabnya, al Ibanah, I/245-246 no. 77]

Menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyebabkan kesesatan, sakitnya hati, bahkan matinya hati seseorang, dan akan membawa pada kebinasaan, kehinaan, adzab yang pedih. Orang yang sibuk dengan perbuatan sia-sia, tidak ada manfaatnya dan berbuat bid’ah, tidak mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang terhina.

Di dalam ayat-ayat al Qur`an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih disebutkan tentang amal-amal yang diterima Allah dan ditolak. Supaya amal kita diterima Allah, maka harus memenuhi dua syarat. Pertama, ikhlas karena Allah. Dan kedua, ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى ، قِيْلَ أَبَى وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى
Artinya:

Setiap ummatku akan masuk surga, kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya,”Siapa yang enggan, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab,”Barangsiapa yang taat kepadaku, maka dia masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dialah yang enggan.” [HR Imam Bukhari no. 7280 dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu].

Barangsiapa yang menghendaki dimasukkan ke dalam surga, maka wajib baginya untuk taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka wajib ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak boleh membuat yang baru dalam Islam, karena Islam sudah sempurna. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada golongan jin dan manusia, agar mereka semua ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada aqidah, syariat dan hakikat, kecuali yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam Tidak ada jalan yang selamat, kecuali jalan yang ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seseorang tidak akan masuk ke surga dan mendapat keridhaan Allah, tidak mendapatkan kemuliaan, melainkan dengan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sumber :

https://robinschone.com/droidjoy-gamepad-apk/