TEKNIK PEMIJAHAN

TEKNIK PEMIJAHAN

1. Pemilihan Induk

  • Induk belut yang akan dipijahkan di dalam kolam sebaiknya telah memenuhi syarat ukuran badan. Induk betina memiliki panjang di bawah 30 cm, sedangkan induk jantan sekitar 40 cm. Pada ukuran tersebut biasanya induk belut sudah siap kawin. Komposisi induk di dalam kolam adalah 1 induk jantan dan 2 induk betina untuk tiap 1 m² kolam.
2. Pemantauan Pemijahan
  • Untuk mengetahui kapan induk belut bertelur, kolam pemijahan harus diperiksa. Jika di permukaan kolam sudah terdapat gelembung-gelembung busa, berarti pemijahan akan segera dimulai. Agar memudahkan penangkapan benih belut nantinya, bagian berbusa diberi tanda dengan cara menancapkan bambu atau kayu kecil. Busa ini akan menghilang setelah 10 hari, artinya ikan telah selesai kawin. Telur-telur hasil pemijahan tersebut akan menetas dalam waktu 10 hari kemudian.
  • Selanjutnya, benih belut berumur 5 hari sebaiknya segera diambil untuk dipisahkan dari induknya. Pengangkatan benih belut dilakukan secara hati-hati menggunakan serokan berbahan halus agar meminimalir resiko terjadinya luka di tubuh. Setelah benih belut diangkat, induk pun diangkat untuk diistirahatkan dalam kolam penampungan induk. Di kolam penampungan, induk belut diberi makan cincangan daging bekicot, keong emas, gedebog pisang, ikan, anak kodok, belatung, atau cacing tanah agar tetap terpelihara serta sehat. Jumlah pakan ikan yang diberikan per hari sebanyak 5% dari berat tubuh.
  • Kolam pemijahan disiapkan lagi untuk pemijahan berikutnya. Caranya dengan menaburkan pupuk kandang berupa kotoran sapi atau ayam, ketebalan tebaran pupuk kandar sekitar 10 cm. Pemupukan ini bisa ditambahkan dedak halus atau serpihan jerami. Induk belut betina pada periode pemijahan sebelumnya dapat dipakai sebagai induk jantan, sementara induk jantan tidak perlu dipakai lagi sebab sudah tidak potensial. Induk belut ini sebaiknya dijual atau dikonsumsi saja.
B. PEMILIHAN BENIH BELUT:
Kualitas benih belut memegang peran penting dalam menunjang keberhasilan usaha budidaya. Untuk itu, sebaiknya hanya benih belut berkualitas yang dipilih untuk didederkan. Benih berkualitas memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
  • Anggota tubuhnya masih utuh, mulus atau tidak ada bekas luka gigitan.
  • Gerakan tubuhnya lincah dan agresif.
  • Penampilannya sehat, dicirikan tubuh ikan keras, tidak lemas jika dipegang.
  • Tubuhnya berukuran kecil, berwarna kuning kecoklat-coklatan.
  • Usianya 2-4 bulan.
BUDIDAYA TAHAP I:
  • Pada budidaya tahap I, benih belut yang ditebar berukuran 5 – 8 cm, padat penebaran ikan 150 ekor/m2. Setelah dua bulan dipelihara benih belut sudah berukuran 15 cm. Belut siap dikonsumsi sebagai belut kering (goreng tepung) atau dipelihara pada budidaya tahap II. Belut ukuran ini sangat sulit ditangkap karena sudah bisa membenamkan diri dalam lumpur. Cara penangkapan salah sayunya dengan cara memasang perangkap (bubu) yang dipasang berderet sebelum pengeringan.

Sumber: https://newsinfilm.com/