Kisah Heroik Susi Ketika Tsunami Aceh

Kisah Heroik Susi Ketika Tsunami Aceh

Susi Pudjiastuti ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Nama wanita bergaya nyentrik ini mulai melambung kala membawa dampak maskapai Susi Air pasca-tsunami Aceh 2004 silam.

Orang Pertama Yang Tembus Lokasi Tsunami

Susi Air awalannya didirikan untuk mengantarkan muatan perikanan milik perusahaan lain Susi, PT ASI Pudjiastuti. Saat bencana Tsunami hebat di Aceh 2004 silam, Susi cuma miliki 1 buah pesawat berbadan kecil yakni Cessna Caravan.

Dengan pesawat itulah, Susi tercatat sebagai orang pertama dari luar Aceh yang pertama kali menembus lokasi tsunami. Pada 27 Desember 2004 atau sehari setelah tsunami besar melanda Bumi Serambi Mekah Susi bersama suaminya Christiant langsung terbang ke Aceh gunakan pesawat pribadinya itu.
Saat itu, Susi mempunyai puluhan tenda besar bersama kekuatan tampung 100 orang. Kedatangan pemberian Susi apalagi ini jauh lebih cepat dari pemerintah dan swasta yang lain.Ketika Yang Lain Angkat Tangan Susi Turun Tangan.

Memberikan Tumpangan Gratis Bagi Jurnalis

Minggu pagi, 26 Desember 2004, Indonesia dikejutkan bencana tsunami yang melanda lebih dari satu negara, di antaranya Aceh. Masyarakat yang miliki saudara atau kerabat di Aceh menangis. Mereka panik dan mencoba menghubungi sanak saudara di Aceh.

Namun, hasilnya? Tak tersambung. Saat itu, saluran telephone sukar diakses. Mereka makin panik dan memastikan untuk terbang ke Aceh sementara itu juga. Ribuan orang memesan tiket secara bersamaan. Bandara menjadi supersibuk. Suara tangisan dan kecemasan isi Bandara Soekarno-Hatta sementara itu. Hanya ribuan doa yang sanggup diucapkan untuk keselamatan sanak saudara sementara itu.

Penerbangan dari Jakarta ke Medan terbilang lancar di hari itu. Namun, begitu hingga di Medan, tumpukan penumpang terjadi. Jadwal penerbangan ke Aceh yang sedikit membawa dampak penumpang tak tertampung. Jutaan duwit di tangan pun tak sanggup ditukar bersama tiket pesawat saking antrenya penumpang.

Di pada orang yang mengantre untuk memperoleh tiket adalah jurnalis. Mereka mencoba berulang-kali untuk memperoleh tiket, tapi nihil. Hingga akhirnya, salah satu jurnalis sarana nasional, Rieska Wulandari, berjumpa sesama jurnalis asal Bandung. Lewat jurnalis senior itu, Rieska dipertemukan bersama Susi Pudjiastuti yang sudah berhasil mempunyai pesawatnya ke lokasi yang tak sanggup dijangkau.

Di dalam kantornya, Susi Pudjiastuti mempersilakan para jurnalis gunakan pesawatnya cuma bersama perlihatkan kartu pers. Rieska sempat bertanya, berapa ongkos untuk carter pesawatnya. Susi cuma tertawa sambil berkata, “Ini sedang bencana, saya tidak sanggup buka harga,” ujar Susi.

Sesampainya di bandara, Susi cuma melambaikan tangan tanpa meminta sedikit pun duwit atau mengumumkan mengenai kiprahnya. “Ia spesial luar biasa. Hatinya tulus,” ungkap Rieska.

Rupanya bukan cuma jurnalis yang mendapat tumpangan gratis sementara itu. Susi membuka lebar-lebar tangannya bagi siapa pun yang sangat butuh tumpangan ke Aceh. Salah satunya, keluarga Riffan.

Riffan mengatakan, sementara itu dia sedang bekerja di Aceh. Ketika tsunami menerjang, keluarga sukar menghubunginya. “Ayah pada akhirnya memastikan untuk pergi ke Aceh. Awalnya ibu pengin ikut, tapi karena di berita pesawat kesusahan dan harga tiket luar biasa mahal, pada akhirnya bapak pergi sendiri. Kami bukan keluarga berada, duwit yang dimiliki bapak sementara itu cuma memadai untuk beli satu tiket,” ucap Riffan.

Begitu hingga di Medan, bapak kebingungan. Ia sempat menelepon ibu untuk terus berdoa sehingga sanggup hingga di Aceh dan mempunyai anak tunggalnya ini pulang. Setelah nyaris seharian menunggu, ia terhitung dipertemukan bersama Susi.
“Alhamdulillah, bapak dipertemukan bersama Bu Susi hingga pada akhirnya sanggup ke Aceh tanpa nampak duwit sedikit pun. Malah Bu Susi berikan sedikit makanan kepada ayah,” kata dia

Kosongkan “Cooler” untuk Tempat Mayat
Suara tangisan terdengar di pada ribuan warga yang memadati pekarangan rumah Susi Pudjiastuti, tahun 2006 silam. Wajah yang ketakutan, kosong, bingung harus berbuat apa.

Pemberitaan luar biasa atas tsunami Aceh 2004 silam, membawa dampak warga Pangandaran panik tatkala gempa yang mengundang tsunami melanda wilayahnya. Memang kekuatannya tidak sebesar Aceh, tapi toh bencana itu memporak porandakan Pangandaran.

Di sedang kepanikan tersebut, seolah cuma satu rumah yang tersedia di dalam benak warga untuk berlindung, yakni rumah Susi Pudjiastuti. Alhasil, mereka berbondong-bondong ke rumah Susi dan tunggu instruksinya.

Di sisi lain, Susi nampak nyata-nyata berbincang bersama sejumlah pegawainya. Dari gerak tangannya, ia layaknya sedang memerintahkan sesuatu. Benar saja, tak berapa lama, pegawainya terhitung asisten rumah tangga menyebar. Ada yang ke dalam rumah tersedia pula yang menolong warga menenangkan diri, dan pergi menyisir mayat korban tsunami.

Dari dalam rumah, asisten rumah tangga Susi membawakan sejumlah makanan untuk para pengungsi. Susi membuka seluruh pintu masuk rumah dan perusahaannya untuk pengungsi. Bukan cuma untuk tempat tinggal sementara, tapi makanan, minuman, semangat, dan apa pun yang dibutuhkan.

“Karena kami kedinginan, kami terhitung memperoleh selimut dan pakaian. Saat itu harapan kami sebetulnya cuma pada Bu Susi. Selain ia orangnya baik, dia miliki pengalaman dari gempa Aceh. Makanya kami berbondong-bondong singgah kesini,” ucap Dadang (43) warga Pangandaran.

Selain itu, Susi mengosongkan cooler miliknya untuk mayat. Hingga pemberian datang, mayat-mayat korban tsunami tersebut lebih dari satu disimpan di tempatnya Susi.

Kondisi ini berlangsung lebih dari satu hari hingga situasi Pangandaran reda dan pengungsi di tempatkan di pengungsian sementara.

Susi pun menyemangati para nelayan untuk mengendalikan traumanya. Salah satunya bersama kembali melaut. Susi berjanji, berapapun ikan yang dihasilkan bakal dibeli olehnya bersama harga yang tinggi.

Kini, di tahun 2014, nama Susi kembali menjadi perbincangan. Dia dipilih oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan di Kabinet Kerja.

baca juga :