YPHP Konsisten Membangun Tanah Papua

YPHP Konsisten Membangun Tanah Papua

YPHP Konsisten Membangun Tanah Papua

YPHP Konsisten Membangun Tanah Papua
YPHP Konsisten Membangun Tanah Papua

Satu, dua, tiga, dan banyak”. Itulah bilangan angka yang dipahami anak-anak pedalaman di Papua

sebelum pendidikan formal masuk ke daerah mereka. Fakta inilah yang acapkali kabur dari pandangan mata banyak orang di kota-kota besar.

Menjadi warga negara Indonesia dan merasa memiliki tanggung jawab membangun kehidupan yang layak bagi sesama, Aileen Hambali Riady berusaha berkomitmen membangun tanah Papua melalui Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP).

Mewakili sang Ibu, Stephanie Riady dalam pidato singkatnya di perayaan 99 Most Inspiring Women,

menjelaskan YPHP berdiri atas tiga pilar utama yaitu pengetahuan sejati, iman kepada Kristus, dan karakter Ilahi. Pilar ini berdiri untuk memperkokoh misi YPHP menjadi lembaga yang berfokus pada Kristus, keunggulan pendidikan holistik di Indonesia dan sekitarnya.

Pendidikan holistik berarti mendidik seluruh pribadi. Secara akademis, sosial, fisik, spiritual mempersiapkan siswa dalam semua dimensi untuk kehidupan dan pekerjaan. Pendidikan seperti itu memberikan dasar untuk pengembangan intelektual yang berkelanjutan, memperluas rasa ingin tahu dan kreativitas, kompetensi profesional, kontribusi masyarakat, dan kematangan spiritual.

“YPH Papua percaya bahwa pendidikan holistik sangat penting untuk transformasi

dan pertumbuhan Indonesia, dan untuk kepemimpinan masa depan bangsa kita dalam komunitas global,” terang Stephanie saat ditemui di Jakarta, Rabu (27/3/2019).

Saat ini, YPHP telah membangun beberapa sekolah Lentera Harapan, yang semula hanya satu di Mamit dengan 35 siswa dan tiga orang guru. Sekarang telah berkembang menjadi 514 siswa dan 49 tenaga guru di enam lokasi, yaitu sekolah di Danowage, (kabupaten Boven Digul), Karubaga (Tolikara), Nalca dan Korupun (Yahukimo), serta Daboto (Intan Jaya).

Stephanie pun bercerita, membangun sekolah ibarat membeli one way ticket. Sekali melangkah tidak bisa mundur lagi. Salah satu tantangan terbesarnya adalah akses yang terbatas, sehingga ongkos logistik yang diperlukan juga tidak murah. Bahkan diakui bisa mencapai 300% dari bahan bangunan yang dibeli.

 

Sumber :

http://fenilu95.web.stmikayani.ac.id/sejarah-sunan-bejagung/